Pengamen sekaligus “Pendakwah”

Standard

Finally..saya nge-blog lagi, wuhuuuu…setelah sekian lama vakum. Baiklah hari ini saya mulai dengan curhat saja. :p

Hampir setiap hari saya berangkat ke kantor diantar suami dan dilanjutkan dengan “ngangkot”. Rutinitas pun berjalan seperti biasanya, suami mengantar ke tempat dimana saya bisa cukup naik 1 angkot saja sampai kantor. Trayek angkot ini adalah Margahayu – Ledeng. Jreng jreeeeng..ini dia angkotnya..

Angkot Margahayu – Ledeng

Daaaaaan hari ini ternyata menjadi kali kedua saya diceramahi pengamen di angkot yang saya tumpangi. Oya sebelumnya saya cerita dulu kejadian pertama kalinya ya..

Begini kejadiannya:
Pertama kali terjadi pada saat saya naik angkot Margahayu – Ledeng sekitar 1 minggu yang lalu. Tiba-tiba ada seorang lelaki muda naik ke angkot yang saya tumpangi, berumur 20an dengan ciri-ciri memakai kemeja dan celana panjang yang sudah lusuh serta menggunakkan topi sebagai penutup rambut gondrongnya yang kemerahan. Pengamen itu masuk ke dalam angkot dengan membawa “kicrikan”, mengucapkan salam pembuka, lalu mulailah bernyanyi lagunya Ayu Ting Ting – Sik Asik. Dengan mengubah sebagian liriknya, yang kira-kira berbunyi seperti ini “Sik asik sik asik menutup aurat”, dia pun asik bernyanyi dengan suara yang sumbang dan tidak terdengar jelas.Setelah selesai bernyanyi, pengamen tersebut meminta penumpang untuk menyiapkan uang untuk membayar jasa menyanyinya (terus terang sekali ya mas ini). Kalau tidak salah ingat, dari 4-5 penumpang, hanya 1 orang yang memberikan uang. Akhirnya, mungkin karena hanya 1 orang yang memberikan uang untuk “jasa” menyanyinya itu, dia mulai ber”dakwah” tentang AURAT. Kebetulan selain saya ada juga yang tidak berkerudung. Dia pun menyebutkan tentang Hadist dan ayat Alqur’an sebagai bahan “dakwah”nya itu. Saya pikir keren juga dia sampe tahu sedalam itu. Tetapi lama kelamaan melihat dari cara dia menyampaikan dengan terbata-bata saya jadi ragu tentang apa yang telah diucapkannya. Dan beberapa saat kemudian dia berhenti untuk pamit dan turun dari angkot. Fiuuuhh.. what a day.. semoga ga ketemu lagi..

 

EEEEEhhhhhh..ternyata harapan saya untuk tidak bertemu kembali dengan pengamen itu, tidak tercapai. Untuk KEDUA KALINYA, pagi tadi dia kembali naik ke angkot yang saya tumpangi. Dia memulai dengan pembukaan, dan kali ini dia membawakan lagu Wali – CaBe (Cari Berkah). Selanjutnya dia (kembali) meminta uang atas jasa bernyanyinya. Pada saat itu angkot penuh, daaaan bisa bayangkan apa yang terjadi, tidak ada satu pun dari penumpang yang memberinya uang atas jasa menyanyinya itu. Kemudiaaaaan, mulailah dia ber”dakwah” tentang sifat KIKIR/PELIT. Et daaaaah.. disesuaikan sekali ya tema dakwahnya dengan yang dia alami.

 

Saya punya pertanyaan sebenarnya dalam hati, mas ini sebenernya dari mana ya. Ada 2 kemungkinan jawaban: pertama, dia lulusan pesantren dan yang kedua dia emang sering dberdiam diri atau istirahat di masjid. Dan jawabannya pun saya belum tahu.

 

Ya mungkin dia bermaksud baik, namun saat dan tempatnya tidak tepat. Semoga saya tidak bertemu untuk yang ketiga kalinya dengan pengamen itu. Amiiiin… 🙂

 

Happy Thursday all! ^^

Pluto, The Little Panther

Standard

Meet again with me..!!

Hai hai..pada posting kali ini saya akan memperkenalkan teman kecil saya yang bernama Pluto, The Little Panther. Dia adalah seekor kucing jantan berwarna hitam yang berumur sekitar 2 tahun. Pluto bukan sembarang kucing, dia merupakan kucing blasteran lokal dan impor *gatau blasteran sama kucing impor mana* :-p

Pluto

Makanan favortinya adalah Wh*skas, baik yang basah ataupun yang kering. Pemilik Pluto sebenarnya adalah calon teman hidup saya. Sekarang saya ceritakan kisah hidup mereka berdua *cailaah*

Cerita ini berawal pada tahun 2009 *eh bener kan ya, darl?* Pada saat itu ada seseorang yang menawarkan anak-anak kucing kepada sepupu dari kekasih saya yang berada di Bekasi. Pada saat itu juga kekasih saya melihat dua ekor kucing berwarna hitam dari beberapa anak kucing yang ada disana. Karena mereka lucu akhirnya kekasih saya pun tertarik untuk memeliharanya *yang ditawarin siapa, yang akhirnya melihara siapa,,ckckck :))* Lalu jadilah dua ekor kucing itu berpindah kepemilikan, dan mereka pun diberi nama PLUTO dan BRUNO. *lupa..dapet dari mana ya inspirasi namanya darl?* Pada saat diadopsi umur mereka kira-kira 6 bulan.

Pluto dan Bruno (Pluto, bulunya lebih hitam, buntut pendek, ada bulu putih di bawah lehernya. Bruno, agak coklat, buntut panjang, ngga ada bulu putih sama sekali. Nah, itu Pluto yang paling deket kamera)

Pluto dan Bruno merupakan kucing yang lincah dan nakal. mereka selalu bermain setiap harinya. Dan lucunya saat dipanggil namanya mereka berdua akan merespon, katanya sih itu tanda bahwa mereka suka dengan nama pemberian itu.huhuhu..lucuuu… *miaw*  Sayangnya, mereka tidak bisa terus bersama, karena Bruno mengalami kecelakaan..hikshiks 😥 Akhirnya Pluto menjadi sebatang kara tanpa saudara.. 😦

Karena sendirian dan terpisah kota oleh kekasih saya (Bekasi dan Bandung)  *berasa kisah romantis*, Pluto pun dibawa ke Bandung. Hubungan mereka pun semakin dekat. Sampai-sampai Pluto setia menunggu kekasih saya pulang kerja, dan itu berlangsung hampir setiap hari. Kalau kekasih saya sedang duduk manis dan Pluto melihatnya, dia langsung loncat dan tidur di pangkuan kekasih saya, itu merupakan salah satu tempat favorit Pluto untuk tidur.

Salah Satu Posisi Tidur Pluto

Selain itu Pluto juga memiliki kegiatan lain, yaitu bermain bersama kucing-kucing yang ada di komplek perumahan dimana kekasih saya tinggal *gaul juga si Pluto* Terkadang temannya masuk ke rumah dan ikut menikmati makanan bersama Pluto.

Kisah saya dan Pluto bermula pada tahun 2010. Awalnya sih saya sempet “dicuekin”, padahal saya wangi dan gak bau badan 😦 *???* Tapi seiring berjalannya waktu dan kasih sayang yang saya berikan kepadanya *hahaha*, dia mau juga deket-deket saya..hihiiiy ^^

Itulah sepenggal kisah hidup seekor Pluto… Tunggu kisah selanjutnya ^.~